(aku terdesak pada
rindu dan prinsip
dan kesetiaan
batu-batu. Aku tak perlu
ruang dan waktu
menerjemahkan kesetiaan.
Aku hanya butuh
senja)
Keraguan ini bukannya sampah, kusajikan di atas altar
malam yang pekat bersama sekarung bintang-bintang dan bunga yang tumbuh dekat
batu nisan.
Aku bermaksud membelikanmu bunga, sebatang coklat dan jus
orange, tapi aku hanya punya kastil dan menara kenangan (yang lebih mirip
mimpi) di sebuah negri bernama senja.
Tapi bagaimana bisa bila nyatanya kau menyukai
bunga di batu nisan, batu yang bisu, keheningan langit malam yang memanjang dan
segelas kopi pahit.
Lalu aku mulai menyusun abjad-abjad ganjil dari
wilayah rahasia dan misteriusmu sambil menerjemahkan rinai di atas larik
senyummu.
Lalu aku juga mengirimkan seribu kunang-kunang menculik
rindu dari keheningan matamu (tapi maaf aku masih sanksi, bahwasanya kau tulus
ikhlas melepas rindu dari matamu yang kulihat masih berdarah-darah)
Dan kau mengajakku menelusuri sungai di labirin yang tak
tentu muaranya. “biarkan ia mengalir” katamu.
Sejak waktu itu, aku mulai membangun harapan baru
sambil menyimpan kenangan akan rindu tanpa darah.
Tapi inilah kesepakatan berbuah keraguan (tapi
bukan sampah) kusajikan di selembar malam yang pekat, sekarung bintang-bintang
(juga bulan bulat penuh), bunga yang tumbuh dekat batu nisan, selebihnya rindu
yang belum sempurna.
Penulis lahir
dan besar di Makassar sementara bersusah payah menyelesaikan kuliahnya, aktif
pada lembaga tomanurung dan Kelompok Penulis Karampuang (KPK) Makassar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar