Senin, 31 Desember 2012

Bunga Yang Tumbuh Dekat Batu Nisan...




(aku terdesak pada rindu dan prinsip
dan kesetiaan batu-batu. Aku tak perlu
ruang dan waktu menerjemahkan kesetiaan.
Aku hanya butuh senja)


Keraguan ini bukannya sampah, kusajikan di atas altar malam yang pekat bersama sekarung bintang-bintang dan bunga yang tumbuh dekat batu nisan.
Aku bermaksud membelikanmu bunga, sebatang coklat dan jus orange, tapi aku hanya punya kastil dan menara kenangan (yang lebih mirip mimpi) di sebuah negri bernama senja.

Tapi bagaimana bisa bila nyatanya kau menyukai bunga di batu nisan, batu yang bisu, keheningan langit malam yang memanjang dan segelas kopi pahit.
Lalu aku mulai menyusun abjad-abjad ganjil dari wilayah rahasia dan misteriusmu sambil menerjemahkan rinai di atas larik senyummu.

Lalu aku juga mengirimkan seribu kunang-kunang menculik rindu dari keheningan matamu (tapi maaf aku masih sanksi, bahwasanya kau tulus ikhlas melepas rindu dari matamu yang kulihat masih berdarah-darah)
Dan kau mengajakku menelusuri sungai di labirin yang tak tentu muaranya. “biarkan ia mengalir” katamu.

Sejak waktu itu, aku mulai membangun harapan baru sambil menyimpan kenangan akan rindu tanpa darah.
Tapi inilah kesepakatan berbuah keraguan (tapi bukan sampah) kusajikan di selembar malam yang pekat, sekarung bintang-bintang (juga bulan bulat penuh), bunga yang tumbuh dekat batu nisan, selebihnya rindu yang belum sempurna.

Penulis lahir dan besar di Makassar sementara bersusah payah menyelesaikan kuliahnya, aktif pada lembaga tomanurung dan Kelompok Penulis Karampuang (KPK) Makassar


Tidak ada komentar:

Posting Komentar